Select Your Language

Translate Your Language Here
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Wednesday, April 1, 2015

Pelajaran kedua: mengembangkan kalimat dengan analogi, perbandingan-pertentangan, melanjutkan via deskripsi/narasi



12 Maret 2014
Aku mengenang saat pertama memandang matamu.
1.       Deskripsi
2.       Analogi
3.       Negasi
4.       Dialog

Deskripsi

Aku mengenang saat pertama memandang matamu. Saat itu aku tengah berjalan dengan sedikit tergesa di antara toko-toko makanan yang belum dibuka dan mahasiswa-mahasiswa asrama yang berlalu-lalang dalam balutan baju tidur, karena jika lima menit lagi aku belum tiba di Stasiun Tanjungkarang, aku akan ketinggalan kereta pertama menuju Kertapati. Tepat di depan sebuah kafe berdinding kaca, kau menabrakku dari arah berlawanan sehingga aku terjatuh bagaikan sepeda yang hilang keseimbangan. Selama beberapa detik aku mengira seseorang telah mendorongku dengan sengaja, tapi kemudian aku melihatmu berjalan memutar ke sampingku, dan segera saja, mengambil buku-bukuku yang jatuh berserakan. Aku berdiri dan membersihkan celanaku yang terkena debu dengan perasaan kesal dan ingin marah. “Maaf saya tidak sengaja, apa kamu baik-baik saja?” tanyamu dengan wajah pucat sambil mendekatiku dan menyerahkan buku-bukuku. Ingin sekali kukatakan bahwa jalan ini lebar dan seharusnya kau bisa berjalan dengan fokus, tapi saat matamu menatap mataku, bibirku terkunci seolah-olah terikat kawat tak kasat mata dan dadaku bergetar seperti dialiri aliran listrik yang halus.

Dialog

“Aku mengenang saat pertama memandang matamu,”kata Ara sambil menyandarkan tubuhnya di pundak Juan. Mereka duduk di taman, menikmati sore dan cappucino panas yang mereka beli di seberang jalan.
“Apa yang kau ingat, Honey?” tanya Juan sambil melingkarkan tangannya ke pundak Ara.
“Waktu itu kamu gugup tapi mencoba tenang,” kata Ara. “Seharusnya aku marah karena kamu menabrakku dan membuat buku-bukuku jatuh.”
“Kalau kamu marah waktu itu,” balas Juan. “Aku tidak akan meminta nomor handphone-mu dantidak akan ada pertemuan lagi sesudahnya.”
“Hahaha..habisnya tatapanmu bikin aku tak berdaya.”
“Ya, semua seolah-olah sudah ditentukan oleh waktu,” kata Juan. “Aku pun tidak akan menyangka bahwa pagi itu adalah titik balik bagi perjalananku.Dan kalau diingat-ingat lagi, Honey, momen itu lebih puitik dari momen apa pun sepanjang hidupku.”
“Aku rasa juga begitu,” kata Ara sambil tersenyum lalu menghirup cappunico-nya yang hampir dingin.
“Kamu lihat bunga mawar itu?” tanya Juan sambil menunjuk ke sudut taman. “Bunga itu mekar karena memang sudah saatnya mekar, seperti itulah aturannya.”
“Ya, aku mengerti,” kata Ara. Saat itu ia tahu, bahwa ia telah menemukan tamannya.

Analogi 

Aku mengenang saat pertama memandang matamu. Saat itu matamu mirip seperti sebait puisi; begitu jernih dan dalam. Kejernihannya seakan menampakkan pasir-pasir di dasar sungai, sementara kedalamannya menyergapku ke dalam lapis-lapis metafora yang sukar kutafsir.Di dalam puisi itu, aku bisa melihat sebuah pagi yang cerah, embun yang menguap dari padang rumput, dan seorang bocah yang menggigil sendirian di bawah hujan. Sehingga aku merasa hadir di dalam puisi itu, menjadi bagian dari frasa-frasa yang tak terpisahkan.

Negasi 

Aku mengenang saat pertama memandang matamu.Mata yang membuatku paham tentang sisi lain dari kelembutan seorang laki-laki. Malam ini,sambil memandang potret kita berdua di layar komputer, kutuliskan sepucuk surat agar rinduku terbayar. Kupilih kertas biru muda yang di setiap pinggirnya ada siluet hati yang terpanah. Kutata kalimat demi kalimat, kuceritakan kegiatanku sehari-hari dan betapa binar matamu tak pernah luput dari ingatan. Kukatakan pula bahwa akhir-akhir ini aku banyak membaca novel-novel terjemahan dan belajar menulis paragraf analogi untuk mengisi waktuku selama tidak bersamamu. Sambil sesekali tersenyum membayangkan hal-hal yang telah kulewati, aku terus menuliskan semua hal yang ingin kukatakan. Dan ketika aku berhenti, kulihat aku telah menuliskannya hingga lembar ke-tiga. “Ah, terlalu panjang dan klise,” gumamku sambil meremas surat itu lalu melemparnya ke kotak sampah.

No comments:

Post a Comment

quotes

what is more beautiful than night/ and someone in your arms/ that's what we love about art/ it seems to prefer us and stays—Frank O'Hara